Minggu, 25 Desember 2011

Laporan Biofisik

PENDAHULUAN
Percobaan biofisik kali ini membahas tentang koloid, bufer (larutan penyangga), dan tekanan osmotik dari suatu larutan.
Koloid dapat didefinisikan sebagai suatu larutan yang ukuran dispersinya 1 mμ sampai 0,1 μ, yaitu terletak diantara larutan sejati (molekular) dengan larutan kasar (suspensi). Pengertian lain sistem koloid adalah sistem pencampuran dua zat yang terdiri atas komponen zat terlarut dan komponen zat pelarut. Komponen zat terlarut disebut fase terdispersi sedangkan komponen zat pelarut disebut medium pendispersi, ukurannya antara 10-7 cm sampai 10-5 cm atau antara 1 mm sampai 100 mm, sehingga partikel-partikel koloid tidak dapat menembus pori-pori kertas perkamen tetapi dapat menembus pori-pori kertas saring biasa. Koloid terbagi menjadi dua yaitu koloid liofil dan koloid liofob. Koloid liofil adalah koloid yang menyukai air sehingga mampu menarik air dan mengembang, contohnya adalah gelatin dan pati. Sedangkan, koloid liofob adalah koloid yang tidak suka (phobia) terhadap air sehingga tidak mampu menarik air, contohnya adalah biru berlin dan ferihidroksida. Kedua contoh dari koloid liofil dan liofob tersebut yang dipraktikkan dalam percobaan ini. Percobaan ini juga meliputi pengendapan yang terjadi pada koloid akibat penambahan larutan garam (NaCl) dengan berbagai konsentrasi, juga mengamati sifat-sifat larutan koloid yang mampu berdifusi melalui gel.
Larutan bufer atau larutan penyangga ialah campuran asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan garamnya. Contohnya adalah campuran CH3COOH(aq) dengan CH3COO-(aq), basa konjugasi dari CH3COO- dapat berasal dari CH3COONa. Larutan penyangga mempunyai kemampuan untuk mempertahankan pH melalui kemampuannya bergabung dengan ion H+ maupun OH-. Percobaan bufer yang dilakukan untuk mengukur pH bufer setelah penambahan sedikit asam atau basa. Definisi pH adalah derajat kekuatan asam atau basa suatu larutan yang memiliki konsentrasi ion H+ atau OH-. Kita juga mengenal istilah kapasitas bufer yang akan diperhitungkan dalam percobaan ini.
Tekanan osmotik adalah tekanan yang diperlukan oleh larutan untuk menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semipermeabel (proses osmosis). Selaput semipermeabel adalah selaput tipis yang merupakan jaringan lubang-lubang kecil atau pori-pori di mana molekul pelarut yang kecil dapat melewati pori-pori ini, tetapi molekul terlarut tidak dapat lewat. Bahan selaput semipermeabel bisa terbuat alami misalnya dari hewan atau tanaman atau dari bahan sintetik selofan. Apabila dua jenis larutan yang berbeda konsentrasinya dipisahkan oleh suatu selaput semipermeabel akan terdapat aliran bersih (netto) pelarut dari larutan yang lebih encer ke larutan yang lebih pekat. Perpindahan bersih molekul pelarut inilah yang dinamakan osmosis. Osmosis dapat dicegah dengan memberikan suatu tekanan pada permukaan larutan (tekanan osmotik). Tekanan osmotik termasuk dalam sifat-sifat koligatif larutan karena besarnya hanya tergantung pada jumlah partikel zat terlarut per satuan volume larutan. Tekanan osmotik tidak tergantung pada jenis zat terlarut. Menurut Van’t Hoff tekanan osmotik mengikuti hukum gas ideal : PV = nRT, karena tekanan osmotik = π , maka : π = n/V R T = C R T, dimana : π = tekanan osmotik (atm), C = konsentrasi larutan (M), R = tetapan gas universal (0,082 liter atm/molOK), T = suhu mutlak (OK).  Ada tiga tipe larutan terkait dengan tekanan osmotik, yaitu Hipotonis jika tekanan osmotik suatu larutan lebih kecil dari larutan yang lain, Hipertonis jika tekanan osmotik suatu larutan lebih besar dari larutan yang lain, dan Isotonis jika tekanan osmotik suatu larutan sama dengan yang lain.
TUJUAN
           
Percobaan koloid ini bertujuan mengetahui sifat-sifat koloid, memahami perbedaan koloid liofil dan koloid liofob, kestabilan kedua koloid tersebut, serta mengamati pengendapan yang terjadi. Percobaan bufer bertujuan untuk mengukur pH baik asam maupun basa. Sedangkan percobaan tekanan osmotik bertujuan untuk mengetahui tekanan osmotik pada larutan sejati serta tekanan osmotik cairan sel darah merah, apakah dengan penambahan larutan garam (NaCl) dengan berbagai konsentrasi akan menimbulkan endapan, dan melihat keadaan sel darah setelah penambahan garam, apakah sel darah bersifat isotonis, hipertonis, atau hipotonis.
ALAT DAN BAHAN
Pada percobaan koloid yang pertama yaitu pembuatan larutan koloid liofil gelatin 2% diperlukan alat dan bahan seperti gelas piala 250 ml, gelatin 2 g, akuades  dingin 25 ml, air mendidih 75 ml, dan pati 2 g, sedangkan untuk percobaan pembuatan larutan koloid liofil pati 2% dibutuhkan alat dan bahan seperti gelas piala 250 ml, pati 2 g, air dingin 10 ml, air mendidih 90 ml. Selanjutnya untuk larutan koloid liofob biru berlin dibutuhkan alat dan bahan seperti pipet ukur, larutan K4Fe(CN)6 0.2 N dan FeCl3 0.02 N 10 ml, gelas piala 100 ml, sedangkan untuk percobaan larutan koloid liofob ferohidroksida dibutuhkan larutan ferohidroksida 33% 1 ml, akuades mendidih 200 ml, dan gelas piala. Kemudian untuk percobaan pengendapan koloid dengan larutan garam dibutuhkan larutan NaCl 10%, akuades, MgSO4, tabung reaksi, larutan koloid CuSO4 5%, larutan koloid biru berlin, eosin, dan larutan giemsa.
Untuk percobaan pembuatan bufer dalam berbagai pH dibutuhkan alat dan bahan seperti asam asetat 0,1 N, Na-asetat 0,1 N, Na2HPO4 1/15 M, KH2PO4 1/15 M, tabung reaksi, gelas piala, pH meter atau kertas lakmus.  
Terakhir untuk percobaan tekanan osmotik pada larutan sejati dibutuhkan alat dan bahan seperti kantong dialisa, larutan sukrosa 10%, prop karet atau gabus, pipa gelas berskala, dan akuades 500 ml, sedangkan untuk percobaan tekanan osmotik pada sel darah merah dibutuhkan alat dan bahan seperti tabung reaksi 3 buah, larutan NaCl 0,3%, NaCl 0,9%, NaCl 5%, pipet tetes, darah segar yang dalam percobaan kali ini digunakan darah ayam. 
PROSEDUR PERCOBAAN
Percobaan pertama yaitu pembuatan larutan koloid liofil gelatin 2%, pada gelas piala 250 ml dicampurkan 2 g gelatin dan 25 ml akuades dingin. Larutan ini kemudian didiamkan hingga semua gelatin menarik air (liofil) dan mengembang. Kemudian sebanyak 75 ml air mendidih dituangkan ke dalam larutan tadi dan diaduk. Dengan demikian larutan koloid liofil gelatin 2% telah terbentuk. Selanjutnya untuk larutan koloid liofil pati 2%, pada gelas piala 250 ml dicampurkan 2 g pati dan 10 ml air dingin kemuadian diaduk sampai homogen. Kemudian, air mendidih sebanyak 90 ml ditambahkan kedalamnya dan diaduk kembali. Terbentuklah larutan koloid liofil pati 2%. Untuk percobaan pembuatan larutan koloid liofob biru berlin, pada gelas piala 100 ml dicampurkan K4Fe(CN)6 0,2 N dan FeCl3 0,02 N sebanyak 10 ml dengan menggunakan pipet. Campuran itu kemudian diaduk agar homogen. Dari campuran tersebut kemudian diambil sekitar 5 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Agar tidak terjadi endapan, campuran ini harus diencerkan seperlunya. Dengan demikian larutan koloid liofob biru berlin telah terbentuk. Selanjutnya untuk percobaan pembuatan larutan liofob ferihidroksida, pada gelas piala dicampurkan 1 ml ferihidroksida 33% dan akuades mendidih sebanyak 200 ml. Dengan demikian larutan koloid liofob ferihidrosida telah terbentuk. Kemudian untuk percobaan pengendapan koloid dengan larutan garam, pertama-tama dengan menggunakan NaCl 10%, 1 ml larutan NaCl 10% ditambahkan ke salah satu koloid liofil (pati atau gelatin) yang telah dipisahkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 3 ml, sehingga akan terbentuk endapan. Jika ternyata larutan jenuh maka harus ditambah akuades dan jika tidak terbentuk endapan maka campuran ditambah MgSO4 sampai jenuh. Selanjutnya untuk pengendapan koloid liofob dengan larutan garam, 1 ml larutan NaCl 10% ditambahkan ke dalam salah satu koloid (biru berlin atau ferihidroksida) yang juga telah dipisahkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 3 ml hingga dibentuk endapan (kemungkinan endapan akan terbentuk lebih dari 1 jam).
Untuk percobaan bufer, larutan asam asetat 0,1 N dicampurkan dengan Na-asetat 0,1 N ke dalam gelas ukur dengan variasi perbandingan voleume masing-masing larutan yang telah ditetapkan. Selanjutnya larutan Na2HPO4 1/15 M dan KH2PO4 1/15 M dicampurkan pada gelas ukur juga dengan ragam volume yang telah ditetapkan. Setelah masing-masing larutan telah dicampurkan, tiap larutan kemudian diukur kadar pHnya dengan menggunakan kertas lakmus atau pH meter.
Percobaan terakhir, untuk tekanan osmotik pada larutan sejati kantong dialisa diisi dengan larutan sukrosa 10%, kemudian ujung kantong yang masih terbuka dilengkapi dengan prop karet atau gabus yang berlubang untuk tempat pipa gelas berskala yang akan dimasukkan sebagai pengukur tekanan osmotik. Ujung pipa gelas berskala diusahakan tercelup pada larutan sukrosa dalam kantong dialisa. Kantong dialisa diberikan sedikit tekanan positif dengan cara ditiup melalui suatu pipa lain. Kemudian kantong dialisa diletakkan dalam gelas piala 500 ml yang berisi akuades. Kantong dialisa diletakkan sedemikian rupa sehingga permukaan larutan sukrosa dalam kantong dialisa sama tinggi dengan permukaan akuades dalam gelas piala. Perubahan ketinggian permukaan larutan sukrosa kemudian diamati. Selanjutnya pada cairan sel darah merah, sebelumnya telah disiapkan 3 buah tabung reaksi. Pada masing-masing tabung kemudian dimasukkan larutan NaCl 0.3%, NaCl 0.9%, dan NaCl 5%. Kemudian pada masing-masing larutan ditambahkan satu atau dua tetes darah segar. Campuran itu kemudian diamati di bawah mikroskop.
HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Koloid Liofob dan Liofil
Larutan
Jenis koloid
NaCl
MgSO4
Gelatin 2%
Liofil


Pati2%
Liofil


Biru berlin
Liofob


Ferihidroksida
Liofob




Tabel II. Difusi melalui gel
Larutan
Hasil
Pengamatan
Gienza
Berdifusi
Description: I:\Giemsa.jpg
CuSO4
Berdifusi
Description: I:\Cuso4.jpg
Fosin
Berdifusi
Description: I:\MakCrot-0041.jpg
Biru berlin
Tidak bedifusi
Description: I:\Biru berlin.jpg

Table 1. Pengamatan Pengendapan Larutan Koloid dengan Garam
Koloid

Hasil Pengamatan
Keterangan
Liofil :


Ø  Gelatin
Tidak terbentuk endapan
Larutan lebih keruh
+
Ø  Pati
Tidak terbentuk endapan
Lebih bening
-
Liofob :


Ø  Biru Berlin
Terbentuk endapan
Berwarna biru tua
+++
Ø  Ferihidroksida
Terbentuk endapan
Berwarna orange tua
+++
Keterangan :
            +          = keruh
            ++        = mengendap
            +++     = banyak terbentuk endapan
-                      = tidak mengendap

Tabel 3.Bufer Asetat (walpole)
V Asam asetat 0,1 N (ml)
V Na-asetat 0,1 N (ml)
pH terukur
pH teoritis
Kapasitas Buffer
23
2
3,94
3,67
24,86 x 105
21
4
4,23
4,01
45,41 x 105
16
9
4.65
4,48
77,84 x 105
10
15
5,08
4,91
81,08 x 105
5
20
5,52
5,33
54,05 x 105
           
            Contoh perhitungan :
            Bufer asam
                        H+                    = Ka x  Ca
                                                             Cg
                        pH                   = -Log [H+]
                        pH teoritis       = ......
                        dik : Ka = 1,75 x 10-5
                        H+                    = 1,75 x 10-5 x  23
                                                                        0,18
                        pH                   = -Log [1,75 x 10-5 x  23 ]
                                                                                  0,18
                        pH teoritis       = 3,65
            atau
                        pH                   = pKa – log  [A]
                                                                     [G]

                                                = -Log Ka – log  [A]
                                                                           [G]
                                                = -Log 1,75 x 10-5 – Log 23
                                                                                        0,18
                        pH teoritis       = 3,65

            Kapasitas bufer           =  [H+]  x  [G]
                                                     Ka
                                                =         23         x 2
                                                     1,75 x 10-5
                                                = 24,86 x 105
            Tabel 3. Pengukuran pH Buffer Posfat
V Na2HPO4 1/15 M (ml)
V KH2PO4 1/15 M (ml)
pH
Kapasitas Bufer
1
24
6,24

3
22
6,35

7
18
6,85

12,5
12,5
7,02

18
7
7,37


            Contoh perhitungan :























            a. Bufer standar asetat (Walpope)
Asam asetat 0,1 N (ml)
Na-asetat 0,1 N (ml)
pH indikator
23
2
4
20,5
4,5
4
16
9
5
10
15
5
5
20
6

            b. Bufer Posfat standar (Sorensen)
1/15 M Na2HPO4 (ml)
1/15 M KH2PO4
pH indikator
1
24
6
3
22
6
7
18
7
12,5
12,5
7
18
7
8

Tabel 5. Tekanan Osmosis Sel darah merah
Larutan
Pengamatan
NaCl 0,3 %
Hipertonik
NaCl 0,9 %
Isotonik
NaCl 5 %
Hipertonik

Tabel 4. Pengamatan Tekanan Osmotik Darah Ayam
Darah + NaCl (%)
Pengamatan
Keterangan
0,3
Mengembang
Hipotonis
0,9
Normal
Isotonis
5
Mengkerut
Hipertonis

            Gambar hasil pengamatan :

Description: I:\9.jpg
Description: I:\3.jpg


                                



            Gambar 1. Darah + NaCl 0,3%           Gambar 2. Darah + NaCl 0,9%
                   Perbesaran 40 x 10                                 perbesaran 40 x 10
Description: I:\5.jpg




Gambar 3. Darah + NaCl 5 %                                                                                                
               Perbesaran 40 x 10                                      

PEMBAHASAN
            Berdasarkan hasil pengamatan pada percobaan koloid, khususnya pada koloid liofil, setelah penambahan larutan NaCl 10% dan garam MgSO4 pada gelatin dan pati tidak terjadi endapan. Akan tetapi bila keduanya dibandingkan setelah satu jam maka gelatin tampak lebih keruh daripada pati. Koloid liofil memiliki sifat stabil karena mengandung zat-zat organik, oleh karenanya dilakukan penambahan MgSO4 karena SO42- memiliki keelektronegatifan yang tinggi supaya koloid liofil mengendap. Prinsipnya, koloid liofil diberikan penambahan MgSO4, garam itu bersifat mengikat air. Jadi garam mengikat air sehingga terbentuk larutan garam dan koloid mengendap. Namun, hal itu tidak terjadi karena proses pengendapan koloid liofil membutuhkan waktu yang sangat lama  karena partikelnya yang saling tarik menarik juga sifatnya yang homogen maksudnya partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya sehingga tidak dijumpai pengendapan. Sedangkan koloid liofob, yaitu ferihidroksida terbentuk endapan warna orange tua dibawahnya, begitu juga biru berlin terbentuk endapan warna biru tua. Terbentuknya endapan karena koloid liofob sifatnya anti terhadap air (phobia air) jadi lebih mudah terbentuk endapan. Tidak ada partikel yang tarik menarik, penambahan MgSO4 membuat air pada koloid liofob langsung membentuk larutan garam dan terbentuklah endapan. Dengan ciri masing-masing, kita dapat membedakan koloid liofil dan koloid liofob. Koloid liofil lebih stabil dan mantap, terdiri atas zat-zat organik, kekentalannya tinggi, sukar terendapkan oleh penambahan elektrolit, kurang menunjukkan gerak brown dan efek tyndall, dapat dibuat gel, dapat dibuat dengan cara dispersi, partikel terdispersi mengabsorbsi molekul. Berbeda dengan koloid liofob  yang kurang stabil, terdiri atas zat anorganik, kekentalannya rendah, mudah diendapkan dengan zat elektrolit, gerak brown dan efek tyndall jelas, hanya beberapa yang dapat dibuat gel, dapat dibuat dengan cara  kondensasi, partikel terdispersi mengabsorbsi ion. Dengan begitu kita dapat mengetahui sifat-sifat koloid diantaranya efek tyndall yaitu gejala penghamburan berkas sinas oleh partikel koloid, gerak brown yaitu partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu, absorbsi yaitu penyerapan pada permukaan, muatan koloid terbagi dua yaitu koloid bermuatan negatif dan positif, koagulasi koloid yaitu peristiwa pengendapan koloid dengan dua cara yaitu mekanik dan kimia, koloid pelindung adalah koloid yang mampu melindungi koloid dari koagulasi, dialisis yaitu pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan menggunakan arus listrik. Contoh koloid yang sering kita gunakan adalah susu, agar-agar, tinta, shampo, awan, dan sitoplasma dalam sel. Percobaan terakhir dari koloid, berdifusi melalui gel disebabkan gel mencair kembali atau gelatin mengkerut sehingga lepas dari dinding tabung.
            Bufer atau larutan penyangga adalah campuran asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan garamnya. berfungsi mempertahankan pH melalui kemampuannya bergabung dengan ion H+ atau OH-. Contohnya bufer yang ada di dalam tubuh adalah darah, paru-paru, ginjal, dll. Kapasitas bufer adalah kemampuan suatu larutan bufer untuk mempertahankan pH setelah ditambah sedikit asam atau basa. Membandingkan pH terukur dengan pH teoritis pada bufer asetat tidak jauh berbeda.
            Tekanan osmotik adalah sifat koligatif yang penting, karena perannya dalam transpor molekul melalui membran sel. Membran tersebut bersifat semipermeabel, yang membiarkan molekul kecil lewat tetapi menahan molekul besar seperti protein dan karbohidrat. Membran semipermeabel dapat digunakan untuk memisahkan molekul pelarut kecil dari molekul zat pelarut yang besar. Peristiwa osmosis merupakan pergerakan spontan molekul pelarut melalui membran semipermeabel dari larutan encer atau pelarut murni ke larutan yang lebih pekat. Pergerakan molekul tersebut terjadi pada kedua arah baik dari yang pekat ke encer maupun dari encer ke pekat, namun hasil bersih pergerakan tersebut merupakan pergerakan pelarut dari larutan encer ke pekat. Pergerakan akan terhenti setelah sistem mencapai kesetimbangan. Walaupun molekul pelarut tetap bergerak melewati membran semipermeabel, namun tidak ada lagi pergerakan lebih lanjut ke arah yang lebih encer. Tekanan yang diperlukan untuk menghentikan gerakan pelarut melalui membran tersebut disebut tekanan osmotik. Tekanan osmotik terutama bermanfaat untuk mengukur massa molar molekul besar seperti protein yang kelarutannya mungkin rendah. Seperti yang telah dikemukakan bahwa bobot molekul dapat ditentukan berdasarkan penurunan titik beku dan peningkatan titik didih, tetapi pengukuran tekanan osmotik jauh lebih sensitif. Osmosis mempunyai kegunaan penting lain. Di beberapa bagian dunia, air merupakan komoditas berharga. Air bersih dapat diperoleh dengan lebih ekonomis dengan desalinasi air asin, melalui proses yang disebut osmosis balik, bukannya dengan destilasi. Bila larutan ionik yang bersentuhan dengan membran semipermeabel diberi tekanan yang melebihi tekanan osmotik, air yang sangat murni akan melewati membran. Osmosis balik juga digunakan untuk mengendalikan pencemaran air. Selain itu, peristiwa osmosis merupakan proses paling penting dalam mahluk hidup. Salah satu contohnya adalah proses yang terjadi dalam sel darah. Bila sel darah merah ditempatkan dalam air murni, sel ini membusung dan bahkan dapat pecah akibat masuknya air ke dalam sel ini melalui osmosis. Tekanan osmotik untuk cairan di dalam sel ini setara dengan larutan NaCl 0,9%. Larutan NaCl 0,9% inilah yang disebut larutan fisiologis. Dengan demikian, bila ini ditempatkan dalam larutan garam dengan konsentrasi sama, tidak terjadi perpindahan bersih air dari manapun ke dalam sel, dan sel tetap stabil. Bila larutan garam lebih tinggi dari 0,9%, air keluar sel sehingga sel mengerut. Larutan yang demikian disebut hipertonik. Sebaliknya bila konsentrasi larutan garam itu kurang dari 0,9%, air mengalir masuk ke dalam sel darah merah, sehingga sel mengembang. Larutan yang demikian disebut bersifat hipotonik. Hal ini sesuai dengan hasil percobaan pengamatan tekanan osmotik sel darah merah. Dari percobaan dapat diketahui bahwa penambahan larutan NaCl 0,3% pada darah sel darah merah mengakibatkan sel darah merah mengembang, yang berarti larutan bersifat hipotonik, sedangkan penambahan larutan NaCl 5% mengakibatkan sel darah merah mengerut, yang berarti larutan bersifat hipertonik. Untuk penambahan larutan NaCl 0,9%, karena merupakan larutan fisiologis maka tidak terjadi perubahan pada sel darah merah.
SIMPULAN
            Koloid terbagi menjadi dua yaitu koloid liofil dan liofob. koloid liofil adalah koloid yang mampu menarik air dan mengembang, sedangkan koloid liofob adalah koloid yang phobia terhadap air. Koloid mempunyai beberapa sifat diantaranya efek tyndall, gerak brown, absorbsi, koagulasi, muatan koloid, koloid pelindung, dialisis, dan elektroforesis. Contoh koloid yang sering digunakan adalah susu, agar-agar, tinta, dll. Pada koloid liofil tidak terjadi pengendapan sedangkan pada koloid liofob mudah terjadi pengendapan. Koloid liofil bersifat lebih stabil dan mantap sebaliknya koloid liofob kurang stabil.
            Pada percobaan bufer pH dapat diukur dengan menggunkan kertas indikator dan membandingkan pH terukur dengan pH teoritis yang ternyata dari hasil percobaan diperoleh hasil yang tidak jauh berbeda. Dari percobaan juga dapat dibuktikan bahwa fungsi bufer adalah untuk mempertahankan pH suatu larutan.
            Pada percobaan ketiga yaitu tekanan osmotik pada sel darah merah, ditemukan tiga keadaan sel darah setelah dicampur dengan garam pada konsentrasi yang berbeda-beda. Dimana untuk penambahan garam pada kadar yang ada dibawah 0,9% sel darah mengembang artinya bersifat hipotonis, sedangkan untuk penambahan garam dengan kadar diatas 0,9% sel darah terlihat mengkerut yang artinya bersifat hipertonis. Untuk penambahan garam pada kadar 0,9% sel darah tidak mengalami perubahan, hal ini dikarenakan konsentrasi yang ditambahkan sama dengan konsentrasi yang ada pada sel darah merah. 
DAFTAR PUSTAKA
Atkins pw. 1996. Kimia Fisik
Lehninger, A. 1982. Dasar-dasar Biokimia
Oxtoby Dw. 1999. Prinsip-prinsip kimia modern.
Anonim. Emulsi. 2009 (Berkala Sambung Jaring). http://ms.wikipedia.org/wiki/koloid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar