Selasa, 27 Desember 2011

Ekosistem perairan menggenang


 
KARAKTERISTIK EKOSISTEM PERAIRAN MENGGENANG
(Studi kasus : Situ Gede, Kuadran IV, Stasiun 21)
Kelompok 21*


ABSTRAK

            Ekosistem sebagai satuan fungsi dasar dalam ekologi didefinisikan sebagai suatu sistem yang di dalamnya terkandung komunitas biotik dan lingkungan abiotik yang saling mempengaruhi satu terhadap yang lain. Ekosistem perairan didefinisikan sebagai sistem lingkungan perairan yang merupakan tempat belangsungnya hubungan timbal balik antara jasad hidup perairan (komponen biotik) dan lingkungan fisik serta kimia  perairan (komponen abiotik). Pada praktikum mata kuliah Ekologi Perairan kali ini dilakukan pengamatan tentang organisme yang terdapat pada perairan menggenang, yaitu Situ Gede yang terletak di desa Cangkurawok, Kabupaten Bogor. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis organisme yang terdapat di perairan Situ Gede beserta kelimpahan dan kepadatannya serta mengkaji tentang interaksi yang terjadi antara komponen penyusun ekosistem khususnya perairan menggenang. Metode yang digunakan adalah pengambilan sampling dan wawancara dengan warga sekitar Situ Gede untuk memperoleh data terkait dengan potensi perairan Situ Gede.  Parameter yang diamati meliputi parameter fisika (warna, kecerahan, suhu, kedalaman, dan tipe substrat, parameter kimia (pH), dan parameter biologi (plankton, perifiton,  bentos, nekton, dan neuston).
Hasil parameter fisika yang diperoleh dari ketiga substasiun, yaitu perairan situ berwarna coklat buram kehijauan dengan suhu berkisar 310-320 C pada kecerahan berkisar 26,5-27 cm, dan kedalaman situ berkisar pada 123-135 cm, serta tipe substrat adalah lumpur berpasir. Parameter kimia menunjukkan pH berkisar 5. Parameter biologi menunjukkan bahwa  dapat teridentifikasi plankton (terlihat pada warna kehijauan pada perairan situ yang merupakan salah satu indikator adanya plankton), perifiton, bentos (kerang-kerangan), nekton (jenis ikan dan udang), dan neuston (serangga).


PENDAHULUAN              

            Peranan alam sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup, baik itu manusia, hewan, ataupun tumbuhan hijau. Suatu pola hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya disebut ekologi (Odum 1971). Mempelajari ekologi tidak pernah terlepas dari pentingnya peranan ekosistem. Peranan ekosistem sangatlah penting untuk menjaga keseimbangan hidup antara organisme dengan lingkungannya. Ekosistem perairan merupakan sistem lingkungan dan tempat berlangsungnya hubungan timbal-balik antara komponen biotik dan lingkungan fisik perairan (komponen abiotik) serta diantara komponen biotik itu sendiri (Soedjiran 1984). Salah satu ekosistem yang diamati adalah ekosistem perairan menggenang. Perairan menggenang didefinisikan sebagai perairan dengan arus stagnan, organisme di dalamnya  relatif tidak membutuhkan adaptasi, terdapat stratifikasi suhu, residence time relatif lama (Anonim1 2010).
Salah satu contoh perairan menggenang adalah situ. Situ merupakan ekosistem yang terbentuk oleh manusia. Manusia sengaja membuat situ untuk memenuhi kebutuhan hidupnya., misalnya sebagai tempat menampung air, sarana irigasi, dan sebagai tempat rekreasi ataupun wisata. Praktikum ini dilakukan diperairan Situ Gede yang dikelola oleh aparat pemerintahan perairan Situ Gede merupakan daerah penting bagi masyarakat sekitar karena telah lama dijadikan sebagai areal yang menguntungkan dan memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Pemanfaatan potensi yang ada harus didukung dengan adanya keseimbangan komponen biotik dan abiotik yang menyusunnya sehingga kelangsungan hidup organisme dan lingkungannya. Tujuan dari praktikum ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan komponen-komponen penyusun ekosistem perairan yang menggenang serta interaksi yang terjadi diantara komponen tersebut. Faktor tertentu yang merupakan komponen-komponen abiotik yang menjadi parameter dalam pengamatan yang dilakukan adalah parameter fisika (warna, suhu, kecerahan, kedalaman, dan tipe substrat) dan parameter kimia (pH), sedangkan untuk mengamati komponen-komponen biotik menggunakan parameter biologi (plankton, perifiton, bentos, nekton, dan neuston).
           

BAHAN DAN METODE
           
Praktikum ini, menggunakan alat-alat diantaranya transek kuadrat berukuran 1X1 meter, pipa paralon 3 inch dengan panjang 2 meter dan 1 inch dengan panjang 1m, termometer, botol film ukuran 30 cm sebanyak 10 buah, jar 250 ml sebanyak 3 buah, ember bervolume penuh 10 liter, sikat gigi, karet gelang, kertas label, alat tulis, serok, secchi disk, kamera, saringan halus dan kasar. Bahan yang digunakan adalah aquades, logol dan formalin 4%.
 Transek kuadrat berukuran 1X1 meter digunakan sebagai pembatas substasiun (area yang diamati) terdiri dari substasiun 1 (SS1), substasiun 2 (SS2) dan substasiun 3 (SS3). Cara penggunaannya yaitu transek kuadrat diletakkan pada jarak sekitar 1 meter dari bibir situ pada SS1 dan bertambah jauh jaraknya dari bibir situ sampai pada SS3 dengan posisi linear ke depan. Pipa paralon berdiameter 3 inch dengan panjang 2 meter dan pipa paralon berdiameter 1 inch dengan panjang 1 meter masing-masing telah diberi skala dengan satuan cm digunakan untuk mengukur kedalaman perairan situ dan mengambil substrat yang berada di dasar situ. Cara penggunaan pipa paralon yaitu pipa paralon dimasukkan ke dalam air (dalam wilayah transek kuadrat) dengan keadaan tegak lurus permukaan air hingga menyentuh awal dasar situ lalu diamati skala pipa paralon, sedangkan untuk mengambil substrat perairan situ yaitu dilakukan dari kelanjutan pengukuran kedalaman perairan situ selanjutnya pipa paralon ditancapkan pada dasar perairan situ kemudian salah satu praktikan menyelam dan mengangkat pipa paralon dari dasar perairan situ. Termometer digunakan untuk mengukur suhu situ dengan cara memasukkan thermometer ke dalam air lalu setelah 2-5 menit skala suhu diamati.
Botol film berukuran 30 cm sebanyak 10 buah digunakan sebagai wadah organisme yang didapat dari hasil pengamatan dan akan diamati di laboratorium. Secchi disk berdiameter 20 cm digunakan untuk mengukur kecerahan situ. Cara penggunaannya adalah dengan menenggelamkan secchi disk ke dalam situ secara perlahan hingga secchi disk tepat tidak terlihat, kemudian dilihat skala yang ditunjukkan pipa paralon berdiameter 1 inch dan dihitung sebagai d1, selanjutnya secchi disk diangkat secara perlahan, tepat ketika secchi disk terlihat kembali, dianggap sebagai d2. Kecerahan dihitung dengan menjumlahkan d1 dan d2 serta membagi dua. Jar bervolume penuh 25 ml sebanyak 3 buah digunakan sebagai wadah bentos yang akan diamati di laboratorium.
Ember bervolume penuh 10 liter digunakan sebagai wadah air yang berasal dari situ (dari masing-masing substasiun) yang akan disaring dengan plankton net untuk mendapatkan sampel air selanjutnya akan diamati di laboratorium, sikat gigi digunakan untuk menyikat batu atau bentos yang berasal dari perairan situ seluas 5X5 cm  untuk mendapatkan perifiton. Karet gelang digunakan untuk mengikat plankton net dan botol film. Plankton net digunakan untuk menyaring plankton yang terkandung dalam perairan situ. Cara penggunannya adalah Air yang berasal dari situ pada ember bervolume 10 liter dituangkan pada plankton net yang telah diikat pada botol film hingga volume akhir dan botol film terisi penuh selanjutnya karet plankton net dilepas dari botol film dan air yang saringan tersebut siap diamati di laboratorium.   Kertas label digunakan untuk memberi label pada masing-masing botol film atau jar agar tidak tertukar. Alat-alat tulis digunakan untuk mencatat hasil pengamatan. Serok digunakan untuk menjaring nekton. Kamera digunakan untuk mendokumentasikan kegiatan dan hasil pengamatan. Saringan halus dan kasar digunakan untuk menyaring substrat dari dasar perairan situ. Cara penggunaannya adalah substrat diletakkan pada saringan kasar selanjutnya pada saringan halus dan menyaringnya hingga didapatkan substrat yang diinginkan.
            Bahan yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya aquades digunakan sebagai pencuci bentos dan substrat  yang akan disimpan dalam botol film. Lugol digunakan untuk mengawetkan plankton dan perifiton dengan cara meneteskannya sebanyak 3 tetes ke dalam plankton dan perifiton yang terdapat di botol film,. Formalin dengan konsentrasi 4% digunakan untuk mengawetkan bentos, neuston, dan nekton dengan cara menuangkannya dengan ukuran tertentu (secukupnya) ke dalam bentos, neuston dan nekton yang terdapat dalam botol film. 

Pengambilan Sampel di Lapang
           
Pengambilan sampel di lapang dilakukan pada hari Minggu 29 September 2010, sebanyak 3 kali pada substasiun yang berbeda dan dibatasi transek kuadrat. Masing-masing substasiun diberi nama SS1, SS2, dan SS3. SS1 berjarak sekitar 1 meter dari bibir situ, SS2  dan SS3 dengan perpindahan substasiun secara vertikal ke depan. Pengukuran beberapa parameter fisika-kimia seperti warna, suhu, kedalaman, kecerahan, tipe substrat, dan pH dilakukan di lapangan. Pengamatan warna perairan situ dilakukan secara visual, yaitu dengan melihat langsung warna air yang berada di dalam wilayah yang dibatasi transek kuadrat. Pengamatan suhu dilakukan dengan menggunakan termometer dengan meletakkan termometer di dalam wilayah yang dibatasi transek kuadrat selama 2-5 menit selanjutnya diamati skala pada termometer. Kedalaman diukur dengan menggunakan pipa paralon yang telah diberi skala dalam satuan cm. Pengukuran dilakukan melalui pipa paralon dengan posisi vertikal diletakkan pada wilayah air yang dibatasi transek kuadrat. Kedalaman diperoleh dari skala yang ditunjukkan pipa paralon ketika awal menyentuh dasar situ.
Kecerahan diukur dengan secchi disk yang dimasukkan ke dalam air situ yang pada awalnya ketika secchi disk dimasukkan ke dalam air secara perlahan tepat tidak terlihat maka dianggap sebagai d1 dan ketika secchi disk diangkat dan tepat terlihat maka dianggap d2, d1 dan d2 dibagi dua ukuran kecerahan situ. Identifikasi substrat dilakukan dengan bantuan pipa paralon kemudian substrat disaring dengan saringan halus dan kasar kemudian substrat diamati. Identifikasi pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH indikator yang dicelupkan pada air situ lalu dicocokkan pada trayek pH.
            Pengambilan parameter biologi dilakukan di SS1, SS2, SS3, dan pengamatan parameter biologi dilakukan di laboratorium. Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan menggunakan plankton net yang ujungnya diikatkan pada botol film. Cara yang dilakukan adalah air yang berasal dari perairan situ sebanyak 10 liter dimasukkan ke dalam plankton net dan sebagian air mengalir ke botol film sampai botol film terisi penuh, selanjutnya diberi lugol sebanyak 3 tetes. Pengambilan sampel perifiton dilakukan dengan mengambil substrat perairan situ berupa batu atau bentos yang berasal dari dasar perairan situ kemudian disikat dengan sikat gigi dengan luas 5X5 cm dan dimasukkan ke dalam botol film, selanjutnya diberi lugol sebanyak 3 tetes. Pengambilan sampel bentos dilakukan dengan menggunakan pipa paralon yang dimasukkan ke dalam air situ hingga dasar danau, kemudian salah satu praktikan mengangkat pipa paralon yang telah terdapat substrat selanjutnya disaring dengan saringan kasar dan halus. Setelah itu dilakukan pencucian dengan aquades dan dimasukkan ke dalam botol film selanjutnya dituangkan formalin dengan konsentrasi 4%. Pengambilan sampel nekton dilakukan dengan menggunakan serok. Setelah nekton didapat selanjutnya nekton diletakkan pada jar yang berisi aquades kemudian dituangkan formalin dengan konsentrasi 4%.  
                                                                                             
Analisis Laboratorium dan Data

Analisis yang dilakukan di laboratorium meliputi: plankton, perifiton, bentos, nekton dan neuston. Pengamatan tersebut dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya. Pengamatan dilakukan dengan tiga kali pengulangan pada setiap sub stasiun dan lima bidang pandang yang berbeda pada masing-masing stasiun.
a.   Kecerahan
 



Keterangan:
D1 : Kedalaman saat secchi disk tepat menghilang (cm)
D2 : kedalaman saat secchi disk terlihat kembali (cm)
b.  Kelimpahan Plankton dapat dihitung dengan rumus:
 


Keterangan:
            N          : Kelimpahan plankton (ind/L)
            Oi         : Luas gelas penutup (mm2)=324mm2
            Op        : Luas satu lapang pandang (mm2)=1,306mm2
            Vr         : Volume botol contoh hasil saringan (ml)= 30ml
            Vo        : Volume 1 tetes air contoh (ml)=0,05ml
            Vs        : Volume air yang disaring (L) = 100 ml
            n          : Jumlah plankton yang tercacah
            P          : Jumlah lapang pandang = 5
            X          : Jumlah pengulangan
c. Kelimpahan perifiton dapat dihitung dengan rumus:
 


Keterangan:
            N          : Kelimpahan perifiton (ind/L)
            Oi         : Luas gelas penutup (mm2)=324mm2
            Op        : Luas satu lapang pandang (mm2)=1,306mm2
            Vr         : Volume botol contoh (ml)= 30ml
            Vo        : Volume 1 tetes air contoh (ml)=0,05ml
            A          : Luas bidang kerikan (4cm2)
            n          : Jumlah perifiton yang tercacah
            P          : Jumlah lapang pandang = 5
            X          : Jumlah pengulangan
d. Kelimpahan bentos dapat dihitung dengan rumus:


Keterangan:
            X          : Kepadatan bentos (ind/ml)
            x          : Jumlah individu per satuan alat (Ind)
            M         : Luas bukaan mulut alat (4,5581x10-3)
            n          : Jumlah pengulangan
HASIL DAN PEMBAHASAN

Lingkungan Perairan
            Hasil yang didapat pada saat praktikum dan pengamatan di lapangan adalah dengan mengukur warna, suhu, kedalaman, kecerahan, tipe substrat, dan pH pada perairan Situ Gede.

Tabel 1. Parameter Fisika Kimia Ekosistem Perairan Tergenang Situ Gede

Parameter
Unit
SS-1*
SS-2*
SS-3*
Fisika
Warna
Coklat
Coklat buram
Coklat buram
Coklat buram kekuningan
Suhu
(C)
31
31
32
Kedalaman
(m)
1,23
1,26
1,35
Kecerahan
(cm)
23-30
26-29
22-31
Tipe Substrat

Lumpur berpasir
Lumpur berpasir
Lumpur berpasir
Kimia
pH

5
5
5











*dibuat dalam kisaran

Perairan di Situ Gede berwarna hijau menandakan banyaknya fitoplankton yang hidup di perairan, karena fitoplankton berwarna hijau, sehingga dapat mewarnai perairan. Menurut Baksir (2004) kelimpakan fitoplankton membuktikan bahwa perairan tidak tercemar karena fitoplankton dapat mengubah zat anorganik menjadi organik. Suhu pada Situ Gede merupakan suhu normal perairan yaitu sekitar 310C. Kedalaman pada substasiun yang diamati berkisar antara 1,23-1,35 cm. Menurut Sidabutar dan Edward (1995) kecerahan sangat ditentukan oleh insetitas cahaya matahari serta partikel organik dan anorganik yang melayang-layang di air. Kecerahan air pada Situ Gede berjarak sekitar 26,5 cm dari permukaan air. Tipe substrat dari Situ Gede adalah lumpur berair dan memiliki PH=5, ini menunjukan bahwa air dari Situ Gede bersifat asam.
                         

Biologi

Plankton
Plankton merupakan organisme yang melayang mengikuti aliran air. Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan menggunakan plankton net yang ujungnya diikatkan pada botol film. Cara yang dilakukan adalah air yang berasal dari perairan situ sebanyak 10 liter dimasukkan ke dalam plankton net dan sebagian air mengalir ke botol film sampai botol film terisi penuh, selanjutnya diberi lugol sebanyak 3 tetes. Pengamatan dilakukan dengan meneteskan sampel yang sudah didapat dari lapang kaca objek kemudian tutup dengan cover glass, selanjutnya diamati dengan menggunakan mikroskop dengan lima lapang pandang. Setiap lapang pandang didapat kelimpahan dan jenis fitoplankton dan zooplankton yang berbeda. Jenis-jenis plankton yang diperoleh diantaranya Ankistrodesmus, Aphanocapsa, Aphanonizomenon, Coelospaerium, Ehormedium, Eudorina, Maugeotia, dan lain sebagainya. Adapun kelimpahan dan jenisnya sebagai berikut :




Tabel 2. Kelimpahan Plankton pada Stasiun 4 Situ Gede


Spesies
SS1
(ind/L)
SS2
(ind/L)
SS3
(ind/L)
Fitoplankton
Ankistrodesmus
-
99.234
-

Aphanizomenon
99.234
-
-

Aphanocapsa   
1.091.577
793.874
793.874

Coelosphaerium
99.234
99.234
99.234

Ehormedium
99.234
99.234
99.234

Eudorina
99.234
-
-

Kirchneriella
99.234
-
-

Melosira
-
99.234
-

Nostoc
-
-
338.515

Phormidium
-
99.234
-

Polystyc
338.515
99.234
-

Richterella
-
99.234
-

Rivulana
99.234
338.515
99.234

Rivularia
-
-
-

Tetraspora
-
99.234
99.234

Volvox
99.234
-
-
TOTAL

2.124.730
1.926.261
1.529.325
Zooplankton
Maugeotia
99.234
-
99.234
TOTAL

99.234
-
99.234
   Ket : kelimpahan individu (ind/L) (merupakan bilangan bulat dan dibulatkan ke bawah)












Gambar 1. Kelimpahan fitoplankton dan zooplankton pada Stasiun 4 Situ Gede (ind/L)

Tabel hasil perhitungan menunjukan bahwa kelimpahan plankton yang tertinggi terdapat pada substasiun pertama. Kelimpahan dari Fitoplankton pada hasil pengamatan lebih banyak dari kelimpahan Zooplankton. Perbandingannya sangat jelas sekali, pada pengamatan hanya ditemukan satu spesies dari Zooplankton pada stasiun pertama dan stasiun ketiga. Kelimpahan plankton yang dominan di perairan menggenang erat hubungannya dengan tingkat kecerahan air yang dimiliki oleh suatu perairan (Basir 2004).
Warna air coklat buram yang berarti menunjukan adanya doninasi Fitoplankton, jenis Plankton ini merupakan salah satu penyuplai pakan alami bagi nekton. Warna air coklat buran kehijauan yang berarti menunjukkan dominansi yang terjadi merupakan perpaduan antara Chlorophyceae dan diatomae yang bersifat stabil yang didukung dengan ketersediaan pakan alami bagi nekton. Standar warna air seperti ini merupakan acuan praktis dalam mengidentifikasi jenis plankton sebagai upaya pendeteksian masalah kualitas perairan secara dini (Taufiq 2010).
Identifikasi jenis plankton di perairan menggenang secara praktis dengan melihat warna perairan serta pengamatan dan analisis laboratorium secara berkala untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Fitoplankton yang paling banyak ditemukan adalah jenis Aphanocaps.


Perifiton                                                                                 
Hasil yang diperoleh di lapangan pada saat praktikum yang termasuk dalam parameter biologi adalah kelimpahan perifiton. Perifiton adalah organisme yang melekat pada batu, substrat, atau tumbuhan air. Perifiton yang banyak ditemukan adalah Chilodonella, Cohrella, Dicranophorus, Euchlanis, Loxodes, Mytilina, Ploesoma, Rotaria, Spirostomum, dan Trichotria.
Tabel 3. Kelimpahan perifiton pada Stasiun 4 Situ Gede


Spesies
SS1
(ind/cm2)
SS2
(ind/cm2)
SS3
(ind/cm2)
Perifiton
Chilodonella

132


Cohrella

297


Dicranophorus


297

Euchlanis

132


Loxodes
132



Mytilina

297


Ploesoma


297

Rotaria

297


Spirostomum


132

Trichotria


1190
TOTAL

132
1155
1916

Gambar 2. Kelimpahan perifiton pada Stasiun 4 Situ Gede

Terlihat bahwa kelimpahan perifiton pada setiap substasiun memiliki jumlah yang berbeda. Kelimpahan perifiton dapat dijadikan indikator pencemaran suatu perairan. Pada tabel tercatat bahwa SS3 memiliki jumlah perifiton yang lebih banyak di bandingkan SS1 dan SS2. hal ini dikarenakan pada SS3 banyak terdapat batu yang dapat dijadikan tempat melekatnya perifiton. Pada SS1, perifiton di ambil dari substrat bentos kecil yang membuat perifiton yang di dapat sedikit. Sedangkan SS2 dan SS3 di ambil dari substrat yang lebih besar seperti batu dan bentos yang berukuran besar.


Bentos
Hasil yang diperoleh di lapangan pada saat praktikum yang termasuk dalam parameter biologi adalah kelimpahan bentos. Bentos adalah organisme yang menempel di dasar perairan, contohnya keong. Bentos yang diperoleh pada praktikum ini adalah Campeloma, goniobasis, Hydrobia, Lymnaca, dan Pleurocera.
Tabel 4. Kelimpahan bentos pada stasiun 4 situ Gede


Spesies
SS1
(ind/m2)
SS2
(ind/m2)
SS3
(ind/m2)
Bentos
Campeloma


293

Goniobasis

293
293

Hydrobia


293

Lymnaca
293
146


Pleurocera
293
293

TOTAL

586
732
879


Gambar 3. Kelimpahan bentos pada stasiun 4 Situ Gede

            Berdasarkan tabel dan grafik, dapat dilihat bahwa kelimpahan bentos terbanyak adalah pada SS2 dengan kepadatan sebesar 732. Secara umum kelimpahan bentos rendah. Hal ini dipengaruhi oleh tipe substrat dasar perairan yaitu Lumpur berpasir. Substrat Lumpur tidak sesuai untuk bentik (Odum 1993) Tipe tanah liat umumnya lebih sesuai untuk menghasilkan variasi organisme tipe dasar yang paling besar dan padat.


Nekton dan Neuston
Hasil yang diperoleh di lapangan pada saat praktikum yang termasuk dalam parameter biologi adalah kelimpahan nekton dan neuston. Nekton adalah organisme yang bergerak bebas, contohnya Ikan, sedangkan neuston merupakan oganisme yang berada dipermukaan air, contonya serangga air.
Data nekton yang diperoleh:

Nama Ikan
SS1
SS2
SS3
Ikan kepala timah
Ikan betutu
Ikan betutu
Ikan kepala timah
Ikan kepala timah
           
Substasiun 1 ditemukan ikan kepala timah. Pada substasiun 2 ditemukan ikan betutu dan ikan kepala timah. Pada substasiun 3 ditemukan ikan betutu dan ikan kepala timah. Nekton yang lain adalah dari jenis crustacea yaitu udang yang terdapat pada substasiun 1 dan 2. Saat pengambilan sample di perairan Situ Gede,  neuston ditemukan di substasiun 2 namun belum teridentifikasi jenisnya karena neuston telah berpindah ke bagian perairan lain yang tak dapat dijangkau. 


Tumbuhan Air
            Tumbuhan air tidak ditemukan pada daerah pengamatan karena Situ Gede juga dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan limbah pemukiman dari warga setempat. Limbah pemukiman mengandung limbah domestik berupa sampah organik dan deterjen sehingga limbah domestik dapat menghambat tumbuhan air untuk melakukan fotosintesis (Anonim 2010)

INTERAKSI KOMPONEN  ABIOTIK DAN BIOTIK

Interaksi antara komponen abiotik dengan biotik
            Tingkat kedalaman perairan mempengaruhi jumlah organisme di dalamnya. Organisme masih terdapat dalam jumlah melimpah pada permukaan perairan dan kolam perairan. Jumlah intensitas cahaya yang menembus permukaan perairan dan kolam, mempengaruhi kelimpahan organisme terutama yang dapat melakukan proses fotosisntesis. Pada kedalaman dasar, maka dapat dioastikan jumlah organisme yang melimpah adalah organisme yang tidak dapat melakukan proses fotosisntesis, seperti bentos. Kecerahan air dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya kepadatan tersuspensi dan waktu pengamatan. Semakin tinggi jumlah padatan yang tersuspensi maka tingkat kecerahan semakin rendah yang menyebabkan sedikitnya cahaya matahari yang masuk ke perairan sehingga jumlah organismeyang terbatas pada jenis zooplankton.Waktu pengamatan juga mempengaruhi kelimpahan plankton. Ketika suhuh tinggi, plankton akan begerak mencari tempat yang lebih optimal untuk proses pertumbuhannya. Adanya keterkaitan yang kompleks, perubahan lingkungan yang terjadi dalam komunitas akan menyebabkan perubahan satu atau lebih populasi yang ada di dalamnya. Hal ini memungkinkan terjadinya pergantian populasi oleh kelompok organisme lain yang dapat dibedakan sebagai sebuah komunitas lain yang baru. Sehingga organisme suatu populasi dapat menjadi indicator bagi perubahan lingkungan (Ravera 1978 dalam Hutapea 2007).


Interaksi antara komponen biotik penyusun ekosistem perairan
            Pada daerah sekitar Situ Gede banyak terdapat pepohonan. Daun-daunan yang terjatuh ke perairan akan tenggelam ke dasar dan selanjutnya akan mengalami pembusukan. Penguraian tersebut akan menghasilkan nutrisi sebagai sumber unsur hara yang akan dimanfaatkan oleh organisme perairan lainnya, seperti bentos dan fitoplankton sebagai produsen primer merupakan sumber makanan bagi zooplankton. Selanjutnya zooplankton merupakan makanan bagi organisme pada tingkat trofik yang lebih tinggi, seperti nekton. Interaksi komponen biotic yang terdapat di Situ Gede merupakan tipe grassing food chain, yaitu perpindahan energi makanan terjadi dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme (tumbuhan – herbivore – karnivora ) (Odum 1993).
Energi matahari

Produsen (Phytoplankton, rumput laut, alga merah)
Konsumen tingkat I (Zooplankton, larva invertebrate, spons,ikan kecil)
Konsumen tingkat II (Moluska, crustacae)
Konsumen tingkat III (Hiu, ikan-ikan karnovora)
 

Dekomposer (bakteri dan fungi)

Gambar 4 : Diagram alir Interaksi antara komponen biotik penyusun ekosistem perairan


KESIMPULAN
            Situ Gede terdiri dari komponen biotic dan abiotik. Komponen biotic terdiri dari produsen dan konsumen, sedangkan komponen abiotik terdiri dari senyawa organic, anorganik, dan lingkungan. Parameter yang diamati dari perairan Situ Gede yaitu parameter fisika, kimia, dan biologi.  Secara fisik perairan Situ Gede berwarna coklat buram, memiliki kedalaman 1, 25 meter, suhu berkisar pada 31-32 C, dengan tingkat kecerahan yang berbeda dari setiap bagian perairan. Secara kimia perairan Situ Gede memiliki nilai pH 5 yang menunjukan perairan berada dalam pH asam. Parameter biologi yang ditemukan di situ Gede, yaitu plankton, perifiton, bentos, nekton dimana plankton mendominasi ketiga wilayah substasiun.


DAFTAR PUSTAKA

Baksir, Abdurrahman. 2004. Hubungan antara produktifitas Fitoplankton dan intensitas cahaya di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur Jawa Barat. [makalah]. Bogor : Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
Anonim 1. 2010. Karakteristik perairan. [terhubung berkala]. www.scribd.com/doc/.../karakteristik-perairan (19 September 2010)
Anonim 2. 2010. Ekologi Tumbuhan. [terhubung berkala]. http://www.scribd.com/doc/14144746/Pencemaran-air (19 September 2010)
Hutapea, Daud. 2007. Struktur Komunitas makrozoobenthos dan parameter fisika dan kimia untuk menduga kualitas perairan di Sungai Cihideung, Kabupaten Bogor,Jawa Barat. [skripsi]. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Odum, E.P. 1993. Fundamental of Ecology. Third Edition. W.B. Saunders Company. Philadephia. 574
Sidabutar, T dan Edward. 1995. Kualitas perairan Selat Rosenberg dan Teluk Galanit Tual Maluku Utara. Ambon : Balitbang sumberdaya laut LIPI
Soedjiran, R. 1984.
Taufiq. 2010. Kondisi Perairan menggenang budidaya. [terhubung berkala]. http://fadlysutrisno.wordpress.com/2010/07/17  (14 September 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar